Di dunia maya, konsumen bisa mengekspresikan kehendak mereka tanpa tergantung pada media mainstream. Mereka dapat membentuk komunitas online mereka sendiri, baik berbasis hobi maupun sebuah brand. Mereka juga saling berbagi informasi melalui blog, forum dan media online, sekaligus menjalin network melalui social media seperti Facebook dan Friendster. Bebasnya penyampaian pesan dalam dunia maya antara konsumen, publik, dan perusahaan/brand, membuat posisi konsumen setara dengan produsen dan media.
Apaboleh buat, kehadiran internet telah mengubah lanskap dunia Public Relation.
Jika sebelumnya para humas lebih banyak bersentuhan dengan media (melalui strategi Media Relations), dengan pemerintah (melalui Goverment Relations) dan sedikit bersentuhan dengan konsumen melalui MarketingPR, maka kini mereka harus bersentuhan langsung dengan publik dan konsumen di dunia maya.
Itu sebabnya, saat ini ada beberapa pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh para praktisi humas.
Pertama: Bagaimana strategi Public Relations di dunia maya, di tengah perubahan dahsyat ini?
Kedua: Bagaimana perilaku pengguna Internet dalam berkomunikasi?
Tiga: Disiplin ilmu apa yang harus dimiliki seorang PR untuk terjun ke media baru ini agar mampu berinteraksi dengan publik dan konsumen secara langsung?
Tiga pertanyaan mendasar itulah yang akan saya kupas dalam seminar Rabu, 18 Maret 2009, di Ritz Carlton, Ballroom 3A, Pacific Place, Jakarta. Seminar ini terselenggara berkat kerjasama dengan majalah marketing communications MIX dan majalah SWA.
Karena strategi Online PR ini akan dipraktikkan di Indonesia, maka akan dikupas juga bagaimana strategi dan praktek online Public Relations sejumlah perusahaan dan brand Indonesia.
Untuk pendaftaran, silahkan klik di sini.
Sumber :
http://www.virtual.co.id/blog/cyberpr/bagaimana-strategi-online-public-relations-di-era-web-20/
|